“Kriiiiiiingngngngng……..” bel istirahat menjerit. Rio terbangun dari tidurnya. Karena jam ke-5 kosong, Ia memanfaatkan waktu untuk tidur. Matanya terasa berat, padahal semalam Ia tidur jam 8.
“Aaaarghghghghhh……..” Rio meregangkan tangannya lebar-lebar ke samping. Dilihatnya Ardi yang tidur pulas sambil merundukkan kepalanya diantara tangannya. “Gua harus bicara sama Tara sekarang” pikir Rio. Ia segera keluar kelas dan mencari Tara, tanpa membangunkan Ardi. Ia ingin bisa membantu Ardi tanpa Ardi tahu apa yang telah dilakukannya. Akhirnya Ia menemukan Tara di koridor kelas XII.
Rio segera mendekati Tara yang tengah asyik bercengkrama dengan teman-temannya. “Ra, ikut gue” bisik Rio. “Kemana ?” Tanya Tara, heran. “Udah lu ikut gue dulu gue mau ngomong sesuatu tentang cowok elu yang lagi galau itu. Cepetan” jawab Rio setengah memaksa. Tara menolak ajakan Rio. “Gue gak mau ngomongin itu. Gue minta putus aja !” teriaknya spontan.
Rio tak bisa berkata apa-apa. Speechless. Teman-teman Tara yang lain juga terlihat shock mendengarnya. “Lu serius Ra ?!” Tanya Asti. Tara mengangguk dengan mantap. Yang lain terlihat kaget. Ada juga yang merasa salah dengar. “Udah, ga usah dipikirin… Daripada gue sakit hati, iya kan, iya kan ?” ujar Tara dengan mudahnya.
“Tara ! Ini semua salah paham, Tara ! Elu salah paham sama Ardi !!!” spontan, Rio mendorong bahu Tara. “Maksud lu apa, hah ?! Lu ngebelain cowok kurang ajar kayak dia ???” bentak Tara. Murid-murid yang berada di sekitar mereka berdua langsung memperhatikan perdebatan tersebut dengan serius. Semuanya diam, tak bergeming.
Rio makin emosi, “Pacar lu sendiri lu katain kurang ajar ?!”
“Lu tau kenapa ? Dia udah ngeduain gue ! Gua sakit hati ! Tau lu ? Ha ?”
“Gua tau, lu sakit hati, Tara, gua tau ! Tapi jangan kayak gini ! Lu marah sama Ardi, lu nyalahin dia, lu caci maki dia tanpa lu tau apa masalah sebenernya !!”
“Buat apalagi gua tau ? Buat apalagi penjelasan ? Buat apa ? Dia emang udah bosen sama gue, dia udah ga serius sama gue, Rio ! Lu harus tau itu !!”
“Ardi nggak begitu ! Lu ga tau yang sebenernya, Tara !” Rio mulai kehilangan kesabaran. Ia sudah mati-matian membela sahabatnya itu dan ternyata kekasih sahabatnya sendirilah yang menentangnya. Namun, Ia tak boleh pantang menyerah demi kelanjutan hubungan sahabatnya.
“Gua udah tau semuanya dari Silva, Yo ! Pokoknya gua minta PUTUS sekarang, gua ga mau tau, sampein ke Ardi gue minta putus ! Putus, putus, udah, putuuss !!!” seru Tara dengan bercucuran air mata. Ia segera berlari ke arah toilet, hendak menghapus air matanya yang kian merebak. Beberapa sahabat Tara mengikuti dibelakangnya.
Rio hanya bisa statis ditempatnya, sementara kerumunan murid-murid yang tadi menonton perdebatannya mulai bubar. Rio tak sanggup menyampaikan hal ini pada Ardi, benar-benar tak sanggup. Menyakiti hati sahabatnya adalah perbuatan yang menurutnya kejam, sangat kejam. Selama ini Ia selalu berusaha membantu sahabatnya, dan selalu berhasil, walaupun cara yang Ia gunakan selalu berlebihan. Ia tak mau kali ini ia gagal. Hanya satu janji di hatinya : Ia akan menyelesaikan masalah ini.
*****


0 komentar:
Posting Komentar